Halaman

Minggu, 07 Desember 2014

"MANFAAT TIDUR DALAM GELAP"

Ahli biologi Joan Robert, Ia mengatakan bahwa tubuh baru bisa memproduksi hormon melatonin ketika tdk ada cahaya, Hormon ini adalah salah satu hormon kekebalan tubuh yang mampu memerangi & mencegah berbagai penyakit, termasuk kanker payudara dan kanker prostat.

Sebaliknya, tidur dengan lampu menyala di malam hari, sekecil apapun sinarnya menyebabkan produksi hormon melatonin terhenti..

Pentingnya tidur di malam hari dengan mematikan lampu juga diteliti oleh para ilmuwan dari inggris, Peneliti menemukan bahwa ketika cahaya dihidupkan pada malam hari, bisa memicu ekpresi berlebihan dari sel-sel yang dikaitkan dengan pembentukan sel kanker.

Sebuah konferensi tentang anak penderita leukimia yang diadakan di London juga menyatakan bahwa orang bisa menderita kanker akibat terlalu lama memakai lampu waktu tidur di malam hari dibandingkan dengan yang tidak pernah memakai lampu waktu tidur.

Hal ini telah dikabarkan Rasulullah sejak 14 abad silam :

"PADAMKANLAH LAMPU DI MALAM HARI APABILA KAMU AKAN TIDUR, Tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana dan tutuplah makanan dan minuman" (HR. Muttafaq 'alaih)

Cinta Rasul

BEGINILAH MEREKA MENCINTAI RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM

Kecintaan kepada Rasûlullâh Shalallahu Alaihi Wasallam seringkali difahami hanya sebatas teori semata, atau tidak tampak bagaimana gambaran nyata dari kecintaan tersebut. Membaca sholawat kepada Nabi Shollallâhu alaihi wasallam dan menjungjung tinggi serta mengikuti sunnah tuntunan beliau adalah termasuk kecintaan ini. Namun kecintaan para shahabat dibuktikan lebih dari hanya sekedar itu,mereka membuktikannya dengan jiwa dan raga. Mereka menjadikan nyawa mereka sebagai tebusan untuk manusia yang paling mereka cintai,… Rasûlullâh Shalallahu Alaihi Wasallam.

Adalah Abu Ubaidah bin al-jarroh radiallahu'anhu seorang diantara shahabat yang setia melindungi Nabi Shollallâhu alaihi wasallam dari gempuran orang kafir quraiys di perang uhud. Dalam suasana pertempuran yang sengit ditengah-tengah kesibukannya membabat musuh-musuh ALLÂH, pandangan matanya selalu siaga untuk senantiasa memperhatikan keberadaan dan nasib Rasûlullâh Shalallahu Alaihi Wasallam yang mulia. Matanya bagai rajawali yang tajam melihat gerak gerik mangsanya. Jika musuh berusaha mendekat kekasihnya untuk menghabisinya, iapun segera mendobrak barisan musuh dan membabatnya. Ia tidak rela jika hidup Nabi pembawa risalah ini berakhir ditangan orang-orang kafir. Dan nyatalah, disaat-saat suasana yang kalut pada pertempuran uhud, ketika barusan kaum muslimin kacau balau dan terdesak, dan bahkan sebagian muslimin lari mengundurkan diri dari kancah pertempuran, sungguh dalam suasana ini orang-orang musyrik memiliki kesempatan emas untuk menghabisi nyawa Nabi kita Shollallâhu alaihi wasallam. Suasana bahaya ini menuntut keberanian dan kesetiaaan dalam menjaga kehormatan islam. Abu Ubaidah adalah diantara sosok yang tampil sebagai pahlawan yang kesatria diantara shahabat-shahabat utama yang melindungi Nabi Shollallâhu alaihi wasallam kala itu. Nabi Shollallâhu alaihi wasallam dalam kondisi bahaya saat itu, Abu Ubaidah sendiri sedang terkepung oleh musuh. Namun dengan ketajaman matanya dan kecintaannya kepada Nabi yang mulia, maka ia segera melompat untuk menyelamatkan jiwa kekasihnya. Pedangnya ia babatkan laksana pedang berkekuatan 100 pedang. ia ceraiberaikan pasukan musuh yang mengepungnya agar bisa segera sampai ditempat nabi Shollallâhu alaihi wasallam.

Sesampai di dekat Nabi dan membabat musuh yang mengepung beliau Shollallâhu alaihi wasallam. Ia kini mendapatkan beliau dengan darahnya yang mengalir dari mukanya yang mulia. Ia melihat beliau Shollallâhu alaihi wasallam menghapus darahnya yang suci dengan tangan kanannya seraya bersabda,"Bagaimana mungkin suatu kaum akan bahagia, ketika mereka telah mencemari wajah Nabi mereka, padahal ia menyeru mereka kepada ROBB mereka ….?". Abu Ubaidah ra merasa pilu ketika ia melihat dua mata rantai baju besi penutup kepala Rasûlullâh Shalallahu Alaihi Wasallam menancap dipipinya yang mulia. Hatinya merasa teriris sekaligus marah terhadap kelakuan orang-orang kafir yang telah berbuat lancang kepada Nabinya. Lalu (setelah mendapat restu dari Abu bakar ash-shiddiq radiallahu'anhu iapun segera menariknya dengan menggunakan gigitan gigi-giginya, saat itulah pipinya menempel dengan pipi beliau yang mulia. Ia menarik besi yang menancap itu sekuat tenaga. Besi itupun tercabut dari pipi Rasûlullâh Shollallâhu alaihi wasallam tetapi berbarengan dengan itu tercabut pulanya satu gigi dari gigi manis Abu Ubaidah radialahu'anhu, darahpun mengalir membasahi pipinya… Kemudian untuk yang kedua kalinya, ia menarik besi yang kedua dengan gigi-giginya, maka tercabutlah besi itu dari pipi Nabi yang mulia, tetapi seperti yang pertama, bersamaan dengan lepasnya besi dari pipi Nabi, tercabut pula gigi manis pahlawan kita ini. Iapun menjadi shahabat yang memiliki gigi ompong setelah hari itu, namun gusi-gusi itu menjadi saksi atas pengorbanannya… darahnya yang mengalir menjadi saksi atas kecintaannya kepada Manusia yang paling dicintainya ini.

Lihatlah pula bagaimana kecintaan yang serupa ditunjukkan oleh seorang wanita dari kalangan shahabat. Nusaibah binti Ka'ab radialahu'anha. Dalam peperangan yang sama, Uhud, ia telah membuktikan kecintaan dan pengorbanan yang tiada tara. Pada mulanya sebenarnya keikutsertaannya dalam kafilah mujahidin saat itu sebagai tenaga medis di bagian belakang pasukan islam. Namun tatkala suasana menjadi genting dan Rasûlullâh Shalallahu Alaihi Wasallam dalam keadaan bahaya, iapun bergegas menuju posisi Rasûlullâh Shalallahu Alaihi Wasallam , dengan cekatan ia menangkap sebilah pedang yang dilemparkan mujahidin. Bersama suami dan kedua anaknya ia bertempur disekitar Nabi Shollallâhu alaihi wasallam beserta kelompok kecil yang melindungi kekasihnya yang mulia. Ia ayunkan pedangnya kesana kemari,… ia babatkan pedangnya kepada siapapun musuh yang mendekat, ketika seorang pasukan musuh berkuda datang menghampiri dan mengayunkan pedang kearahnya iapun menangkisnya dengan perisainya, lalu dengan cergas ia membabat kaki kuda musuh,hingga kudapun terjatuh. Nabi berseru kepada anaknya, "Bantulah ibumu… dia telah menolongku membunuh tentara musuh !" . Ketika anaknya terluka, ia membalut luka anaknya, dan setelah itu ia memberi semangat kepada anaknya, "Bangkitlah nak,… hantamlah pasukan musuh itu !".

Ketika musuh yang melukai anaknya mendekat lagi, Rasûlullâh Shalallahu Alaihi Wasallam berkata, "dialah orang yang telah melukai anakmu !". Maka dengan sigap, ibu kita ini menolehnya lalu menyerangnya, ia tebaskan pedangnya ke arah kaki musuhnya, hingga tersungkur. Iapun bahagia tiada tara, dan kebahagiaannya bertambah dengan ucapan dan senyuman Rasûlullâh Shalallahu Alaihi Wasallam saat itu yang berkata kepadanya, "engkau telah membalasnya !". Ia merasa gembira karena dapat membela kemuliaan islam dan melindungi nabinya dan kekasihnya, ia tidak merasakan betapa letih tubuhnya kala itu dengan keringatnya yang bercucuran, dan darahnya yang mengalir dari tubuhnya . 13 luka telah menganga disekitar tubuhnya dalam pertempuran itu, dan menjadi saksi atas pengorbanannya.

Saat Pasukan muslimin berangkat untuk mengepung Bani Quraizhah, ia ikut serta dalam pasukan ini. Perang melawan kaum yahudi bani Quraizhah ini tidak menyurutkan semangatnya walau luka-luka ditubuhnya akibat perang uhud belumlah sembuh.

Diperang Yamamah, … ketika perang melawan orang-orang yang murtad berlangsung, Nusaibah wanita ksatria inipun ambil bagian walau ia seorang wanita dengan usianya yang 60 tahun. Ia meminta ijin kepada amirul mukminin Abu Bakar ash-shiddiq ra untuk ikut serta dalam pasukan mujahidin. Ia memohon kepada ALLÂH untuk menyaksikan kematian musailamah yang telah mencoreng kerasulan Nabinya dan membunuh anaknya.. atau ia mati sebagai syahid dalam perang itu. Iapun berperang dengan gigihnya. Do'anyapun terkabul, ia telah menyaksikan terbunuhnya musailamah. Kebahagiaannya terukir direlung hatinya…. karena kehormatan islam tetap terjaga di tangan orang-orang yang membelanya, dan dia adalah salah satunya. Iapun sujud syukur sebagai tanda terimakasih kepada ROBBnya, kegembiraanya telah menghilangkan rasa sakit akibat 11 luka ditubuhnya dan satu lengannya yang terputus diperang itu. Sungguh ia wanita ksatria dan mujahidah sejati. Kecintaannya kepada islam dan Rasûlullâh saw telah berani berkorban walau jiwa dan raga menjadi tebusannya….Semoga ALLÂH meridhainya, dan meridhai para shahabat semuanya.

Dua cuplikan kisah diatas adalah kisah nyata yang telah ditorehkan oleh 2 orang sosok muslim yang mencintai Rasûlullâh Shalallahu Alaihi Wasallam sebagai pembawa risalah islam. Kecintaan kepada Nabi Shollallâhu alaihi wasallam merupakan bagian dari keimanan, dan keimanan adalah ucapan dan perbuatan. Bentuk-bentuk pengorbanan dengan amal nyata di dalam kehidupan menjadi suatu tuntutan dan keniscayaan bagi orang-orang yang mengaku beriman dengan kerasulan Nabi Shollallâhu alaihi wasallam. Kecintaan kepada Nabi Shollallâhu alaihi wasallam bahkan harus melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri. Inilah makna dari sabda beliau saw (yang artinya): "Tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya dan dari manusia seluruhnya".(HR. al-Bukhari).

Dan seperti yang beliau sabdakan kepada Umar, katika umar pernah berkata: "ya Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala-galanya selain diriku sendiri." Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak, demi Dzat yang jiwa berada di Tangan-Nya, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri !." Maka Umar berujar; 'Sekarang demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku'. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "sekarang (baru benar) wahai Umar." (HR.al-Bukhari).

Hari ini kecintaan kepada Nabi Shollallâhu alaihi wasallam berupa pengorbanan dengan nyawa dan harta bukan berarti terputus. Sebab Jihad Fii Sabilillah untuk membela kehormatan Dienul-islam dan meninggikan kalimat ALLÂH adalah sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi kita yang mulia. Termasuk diantaranya membela kerasulan Nabi Shollallâhu alaihi wasallam yang tidak sepatutnya dilecehkan dan dinodai oleh garuda pancasila atau manusia manapun dimuka bumi ini

Wallahu a'lam.

Jumat, 05 Desember 2014

Jangan Suka Marah-marah

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah atas Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Marah adalah penyakit jiwa yang bisa membuat orang tak menghargai akal sehat dan pikiran normalnya. Sebab marah, ada orang tega menghabisi nyawa pasangannya karena sebab sepele. Marah bisa membuat keluarga retak sehingga terjadi perceraian. Marah bisa memutus hubungan orang tua dengan anak. Marah bisa merubah hubungan kasih sayang menjadi kebencian dan persaudaraan menjadi permusuhan.
Pernah ada seorang laki-laki datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan berkata: “Berilah wasiat kepadaku”.
Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.”
Ia mengulangi permintaan itu beberapa kali, dan beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” (HR. Al-Bukhari)
Marah timbul adanya pergolakan emosi yang menyebabkan wajah memerah, denyut jantung menjadi cepat, denyut nadi meningkat, dan nafa berlomba. Marah merubah wajah orang yang tampan menjadi menakutkan.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyifati marah sebagai bara api yang ada di dada seorang manusia. “Ketahuilah, sesungguhnya marah adalah bara api dalam dada Ibnu Adam (manusia), tidakkah engkau lihat kedua matanya yang memerah dan urat lehernya yang menegang.” (HR. Ahmad)
Marah punya kaitan erat degan sikap sombong, merasa lebih tinggi, zalim,dan jahat. Karenanya, marah itu menjadi jalan kehancuran. Jika seseorang marah dan tidak berusaha untuk mengendalikannya, ia akan berbicara atau berbuat di luar kesadarannya yang kelak akan disesalinya.
Betapa banyak kalimat talak diucapkan suami karena marah, dan setelah kemarahannya mereda ia sangat menyesal. Ada juga orang tua yang sangat marah kepada anaknya sehingga memukul dan menganiayanya, akibatnya anaknya menjadi cacat atau anaknya pergi dari rumahnya. Banyak kasus, akibat marah hubungan persaudaraan menjadi putus, harta benda dirusak dan dihancurkan. Semua itu menunjukkan bahwa marah yang tidak dikendalikan akan menyebabkan keburukan-keburukan.

Keutamaan Menahan Amarah
Allah ‘Azza wa Jalla telah memuji kaum mukminin yang bertakwa dengan sifat-sifat mulia yang cukup banyak, salah satunya mampu menahan amarah, gemar memaafkan orang yang salah, dan membalas keburukan orang dengan kebaikan.
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)
Tiga sifat mulia dalam ayat di atas: Pertama, menahan marah dan memadamkannya. Kedua, memaafkan dan berlapang dada walau ia sanggup membalas dan mengalahkan orang yang bersalah kepadanya. Ketiga, berbuat baik kepada orang yang telah berbuat buruk terhadap dirinya.
.... Marah adalah penyakit jiwa yang bisa membuat orang tak menghargai akal sehat dan pikiran normalnya. Sebab marah, ada orang tega menghabisi nyawa pasangannya karena sebab sepele .....
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membuat penilaian tentang orang kuat yang tidak ada pada benak manusia di kala itu, “Orang kuat bukanlah yang menang bergulat, sesungguhnya orang kuat itu adalah orang yang menguasai dirinya saat marah.” (Muttafaq ‘Alaih)
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam segala urusan.” (Muttafaq ‘Alaih)
Dan orang yang paling berhak mendapatkan kelembutan kita adalah istri kita, anak-anak kita, dan saudara-saudara muslim kita. Wallahu A’lam.

La Tahzan Innallaha Ma’ana

#Cerita dari salah seorang teman

Malam-malamku sebulan terakhir ini bertabur doa lewat istikharah. Doa harapan senantiasa kumohon dalam sujud-sujud wajibku dan qiyamul lail. Semoga Allah segera mengabulkan doaku ini. Egois memang rasanya tak berhak menuntut segera menjadi kenyataan namun aku yakin Allah Maha Mendengar. 

Bismillah…
Oke, perkenalkan namaku Pipit Kini aku masih tercatat sebagai mahasiswi salah satu universitas swasta di Jogja. Tak hanya itu aku juga “nyambi” bekerja di salah satu sekolah menengah pertama sebagai guru honorer. Pekerjaaan ini sudah aku tekuni sejak aku menginjak di semester 6 lalu. Yah, hidup sendiri tanpa saudara di Jogja memaksaku untuk tidak berpangku tangan mengandalkan uang kiriman dari orang tua di Borneo sana.

Hari-hari akhir untuk masa perkulihanku sudah di depan mata. Aku sudah mengikuti KKN, PPL, skripsi dan serentetan tugas-tugas lainnya. Pertengahan Juli tahun ini aku akan segera wisuda S-1, Alhamdulillah… semoga lancar, Aamiin. Namun hal itu tidak terlalu mengganggu pikiranku, meski aku juga dag-dig-dug menanti moment special tersebut tapi jauh dalam hatiku terselip pikiran yang lebih mengganjal. Dua minggu yang lalu orang tuaku datang ke Jogja. Sangat tak ku sangka sebab sebelumnya baik Ayah atau Ibu tak pernah membicarakan hal ini. Waktu itu mereka sampai di kostku sekitar pukul 3 sore. Selepas sholat maghrib tanpa ba-bi-bu panjang lebar kedua orang tuaku membicarakan niatnya datang ke Jogja. Enough… sudah aku duga sebelumnya, setelah wisuda nanti kedua orang tuaku ingin aku segera menikah. Menikah Oh, siapa sih yang gak pengen melaksanakan sunnah Rasul tersebut menyempurnakan separuh agamanya. Tapi.. tapi.. hey apakah ini tidak terlalu terburu-buru… Juli tahun ini umurku baru 23 tahun lebih 5 bulan dan itu umur yang menurutku masih amat sangat terlalu muda sekali.

“pokonya cepet pulang ya nduk.” ucap wanita paruh dari seberang sana. “iya iya Bu, besok Pipit segera meluncur ini juga baru “ngepak-ngepak” kok.” Jawabku sopan. “yasudah, kamu terusin lagi, ini Ibu mau ngaji di rumah Bu Mawardi…” Ucapnya lagi dengan memberi tanda mengakhiri percakapan singkat ini.

Haaahh… aku menarik napas dalam-dalam.. 4tahun silam, di kota ini, aku bermimpi dan melabuhkan harapan-harapan itu, mencoba merangkai asa semua tentang dinamika hidup. Yah, Jogja..aku mengenalmu tak hanya dalam hitungan hari atau bulan tapi bertahun-tahun. Menimba ilmu dan menemukan arti sebuah perjuangan bertahan hidup. Mempertemukan aku dengan banyak pelajaran banyak hal banyak orang, kampus, teman-teman, pacar. Eh…pacar Dan kini sudah tiba saatnya aku kembali ke pulau seberang, yeah Borneo I’m coming

-4 hari kemudian-“gimana nduk…sudah ada yang kamu pandang cocok.” kata Ayahku mengawali perbincangan sore itu di ruang tamu. “ini kebetulan Ibu ada foto dan data dari para ikhwan.” Tambah Ibuku sambil menyodorkan lembaran-lembaran kertas dan beberapa foto.

Aku mengambilnya. Jantungku berdegup kencang keringat dingin menyerang tangan pun gemetar. Aku amati satu persatu ikhwan-ikhwan tersebut dalam foto dan kubaca biodatanya. Aku tak mengerti sebenarnya apa maksud semua ini. Kenapa kedua orang tuaku sangat bersikeras bahwa aku harus segera menikah. Padahal apa, aku ini masih muda kuliah juga baru selesai kerja pun belum dapat apa-apa pengalaman dunia luar pun masih kurang. Dan yang lebih memilukan, aku sudah punya pacar. Bayu, yah dia pacarku selama 2,5 tahun ini. Dia satu kampus denganku namun berbeda prodi dan Juli kemarin pun dia juga wisuda.

Satu minggu sebelum kepulanganku, aku mencoba bercerita semuanya. Namun segera ku urungkan niat itu ketika kami bertemu disebuah kafe. Kulihat wajah wibawanya, kutatap dua sorot matanya. Jauh. Dalam. Hatiku semakin kalut, sakit, semua kenangan dengannya itulah yang menghambat tenggorokanku menyumbat sekat antara hati, pikiran, dan perasaan. Bulir dari tetes air mataku pun memecah keheningan senja itu. Bayu mengangkat wajahku. Menatap lekat.

Tampaknya Bayu merasakan keanehan dalam diriku jauh-jauh minggu sebelumnya. Sikapku yang tiba-tiba cuek, judes dan sangat sensitif. Tidak nyaman. Namun, dia memahami dan tidak curiga bahwa aku menyimpan rahasia yang menyakitkan. Meskipun begitu kami masih berkomunikasi dengan baik layaknya orang pacaran. Tiap malam dia juga menelepon. Memberi pesan agar aku selau baik-baik di rumah dan menyempatkan memberi kabar. Dia juga menitip salam buat kedua orang tuaku.

Kembali… aku hanya diam, menahan napas beberapa detik dan melepaskannya pelan. Ada air tertahan dalam pelupuk mataku. Sakit. Aku meletakkan foto-foto itu di atas meja tanpa berkomentar dan tidak berani menatap kedua orang tuaku. Aku sangat terpojok dalam situasi seperti ini. Aku ingin berlari ke kamar namun tubuhku mendadak berat kaki pun kaku. “nduk Pit ” Tanya Ibuku tiba-tiba. Aku kaget dan tanpa sadar aku pergi meninggalkan mereka berdua. Menangis. 
-RSJ Mitra Sehat, 09.30 a.m-

“kakak… apa kabar ini kami datang membawa buah apel kesukaan kakak.” Ucapku lirih pada wanita di depanku. Muhaima Safitri, kakakku yang pertama dan yang terakhir. Dia sedang sakit, sakit jiwa lebih spesifiknya. Tiga tahun berada di rumah sakit ini berharap mendapatkan perawatan dan dapat mengobati sakitnya. Namun sampai saat ini hasilnya masih nihil. Semua berawal ketika kakakku ingin menikah dengan seorang ikhwan asal Padang. Rencana yang indah-indah pun sudah kami susun. Hajatan, pengajian, baju pengantin, kado-kado, makanan, dekorasi semua tak berguna lagi ketika 1 hari sebelum ijab qobul si ikhwan dan keluarga tak kunjung datang. Sms dan telepon sudah dilakukan. Hingga kami mendapat kabar dari saudara si ikhwan bahwa pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan. Astaghfirullah keluarga kami pun “geger” bukan kepalang apalagi kakakku yang langsung pingsan waktu mendengar itu semua. Dan inilah, sampai sekarang semua itu mungkin menjadi sebab kakakku stress, depresi, frustasi atau apa entahlah yang jelas jiwanya terganggu.

“kakak jangan sedih ya jangan menyerah kami selalu ada kok pokonya kakak harus semangat, doa kami yang terbaik untukmu kak.” Ucapku lagi sambil memeluk wanita ini. Tiba-tiba air mataku menetes membasahi kerudung birunya. Dia hanya tertawa layaknya orang gila di jalanan. Memandang kami sinis tak sadar bahwa kami adalah keluarganya.

“nduk, kami melakukan semua ini untuk kebaikanmu. Kami ingin kamu bahagia.” “iya Pipit tahu Bu, tapi apa ini tidak terlalu buru-buru, menikah semuda ini. Bukan maksudku tidak mau tapi menurutku ini belum waktunya. Aku belum bekerja Bu, belum mengabdikan ilmu yang ku dapat selama 4 tahun di Jogja.” “Ayah, Ibu…aku mohon beri waktu buat Pipit untuk berpikr. Aku belum siap meskipun ini sunnahnya. Pipit… Pipit juga sudah punya pacar kok Bu.” “nduk, kamu boleh berpacaran dengan siapapun asalkan dia baik. Baik dalam hati tentunya, tapi untuk pacarmu di Jogja itu maaf Ayah tidak setuju.” “kami tidak ingin kamu sembarangan mencari pasangan hidup nduk, ini pasti yang terbaik untukmu. Kami tidak ingin nasibmu sama dengan Kak Ima.” Deg…jantungku seolah berhenti, jadi selama ini alasan orang tuaku menyuruh segera menikah agar aku tidak seperti Kak Ima yang bernasib gila itu yang akan menjadi stress muda gara-gara ditinggal mati calon suaminya itu Ya Allah… mengertikanlah mereka
\
Seiring berjalannya waktu… Sebelum proses ta’aruf dengan ikhwan yang mengajar tahsin ini aku sempat ta’aruf dengan ikhwan lain di luar kota atas info pamanku. Aku sreg dan mantap dengannya setelah kuperoleh biodata tentangnya. Selain, shalih, rajin ngaji, sarjana dia juga sudah mapan. Soal fisik dari yang kubaca, dia tipe yang ideal yang dicari para wanita. Nah, siapa yang tak senang ditawari ikhwan seperti itu. Sekarang aku hanya perlu bersabar dan berdoa tentang semua ini. Tapi, harapan tinggal harapan. Proses tak berlanjut seperti impianku. Tiga hari kemudian aku mendapat kepastian bahwa ikhwan mundur. Alasannya karena fisikku. MasyaAllah, meski sangat kecewa aku terima keputusan ini. Maklumlah, fisikku memang sangat tidak “berkelas” tinggiku tak lebih dari 155cm kulitku juga tak seputih kebanyakan wanita lainnya. Namun, Alhamdulillah, ku syukuri pemberian-Nya kubesarkan hati InsyaAllah masih ada ikhwan yang menerima kekurangan dan mau melihat sisi positifku.

Hingga suatu ketika ada tawaran untuk ta’aruf lagi, dengan bismillah aku menyambutnya. Proses memang agak lambat. Aku harus menunggu sepekan untuk memperoleh biodatanya. Teman perantaraku bilang dia nggak mau gegabah karena sangat berhati-hati. Dia seorang sarjana S1 teknik industri. Soal pekerjaan pun dia terkesan sangat merendahkan. Dan kurasa itu tambahan nilai plus untuknya. Kuceritakan diriku dan keluargaku apa adanya. Berbeda dengan si ikhwan yang latar belakang agamanya sudah bagus. Sementara aku saja baru berkerudung kecil, itupun kalau mau brpergian. Aku bukan anak pondok pengetahuan tentang ilmu agama sangat terbatas. Jujur saja aku merasa minder, akankah latar belakang keluargaku menjadi nilai minus-ku untuk melanjutkan proses ta’aruf ini ataukah mukjizat Allah berpihak kepadaku atau bahkan Allah merencanakan kehendak lain

Dalam penantian yang cukup membuatku galau ini, tiba-tiba saja kabar mengejutkan datang dari Bayu. Hey…aku sudah melupakannya, ehm hampir maksudku. Sosok yang kini agak asing di hatiku. Yah waktupun yang menjawab semua aku jujur adanya bahwa kembaliku ke Borneo untuk menerima tuntutan ini, tuntutan untuk menikah.. lucu ya Aku tahu ini sangat menyakitkan baginya, bagiku juga (dulu). Aku tak dapat menerima kenyataan ini melepas orang yang ku sayang demi menuruti kemauan orang tua. Alasannya simple, karena Bayu menurut Ayah tak baik untukku. Itu saja. Namun semua itu dapat aku pahami perlahan meskipun butuh waktu untuk menata hati.

Assalamualaikum, hai Pipit apa kabar ku hrp kau baik-baik sja, ehm.. aku tau ini adlh keadaan yg berat utk kita tp yah aku mengerti memang sejak awal keluargamu tak membuka restu utk ku. No problem aku bisa terima mski sakit dan trpaksa. biarkan smua brlalu. Semoga kamu bahagia dg plihan itu. Oh ya aku jg sudah mendapatkan penggantimu, namanya Intan. Doakan smoga kami langgeng. Wsslam.

Kurang lebih seperti itulah sms dari Bayu. Mungkin itu sms terakhir darinya saat ini. Membaca semua itu membuat pikiranku kembali ke masa-masa kuliah. Tiba-tiba saja hatiku tak karuan, orang yang dulu selalu menemaniku di Jogja yang selalu membuatku jengkel karena sifat cueknya yang selau “ngemong” saat aku bertingkah manja yang selalu bersikap dewasa dan wibawa ketika aku merasa lelah yang harus aku tinggalkan demi orang lain yang sekarang tak tahu kepastiaannya justru kini sudah mendapatkan penggantiku. Ya Rabby di tengah harapanku yang belum pasti lagi ini tetap kuatkan hatiku rengkuh jiwaku dan kuatkan keimananku. Karena sampai saat ini masih ku junjung harapan itu. Tak berhenti aku berdoa, jika ikhwan itu jodohku, semoga Engkau dekatkan namun jika tidak, aku harap aku bisa menerima ini dengan lapang dada. Aamiin.

Manfaat Mandi Sebelum Subuh

Manfaat Mandi Sebelum Subuh dalam Islam dan Amalan lain Nabi Muhammad SAW 

Sesungguhnya banyak riwayat hadits yang menyebutkan bahwa mandi sebelum subuh bisa menyehatkan badan. Adalah Islam dengan Al Qur'an dan sunnah Rasul yang mengajarkan kepada kita kiat-kiat mandi sebelum matahari terbit.

Mari Simak Manfaat mandi sebelum subuh dan apa saja Amalan lain Nabi Muhammad SAW, simak berikut ini :

1. Waktu shalat subuh disunatkan kita bertafakur (yaitu sujud sekurang kurangnya satu menit setelah membaca doa). Kita akan terhindar dari sakit kepala atau migrain. Ini terbukti oleh ilmuwan yang meneliti kenapa dalam sehari perlu kita sujud. Para ilmuwan telah menemukan beberapa milimeter ruang udara dalam saluran darah di kepala yang tidak dipenuhi darah. Dengan bersujud maka darah akan mengalir ke ruang tersebut.

2. Mandi pagi sebelum subuh atau paling tidak sejam sebelum matahari naik. Air dingin yang meresap ke dalam badan bisa mengurangi lemak mengumpul. Kita bisa saksikan orang mengamal mandi pagi kebanyakan badan tak gemuk.

3. Rasulullah mengamalkan minum segelas air dingin (bukan air es) setiap pagi. Mujarabnya Insya Allah jauh dari penyakit (susah nak kena sakit).

4. Dalam kitab ini ada melarang kita makan makanan darat bercampur dengan makanan laut. Nabi pernah mencegah kita makan ikan bersama ayam. di khawatirkan akan cepat mendapat penyakit. Ini terbukti oleh ilmuwan yang menemukan bahwa dalam daging ayam mengandung ion + ve sedangkan dalam ikan mengandung ion-ve, jika dalam ayam bercampur dengan ikan maka terjadi reaksi biokimia yang terhasil yang bisa merusak usus kita.

5. Makanlah dengan menggunakan tangan kanan Nabi juga mengajarkan kita makan dengan tangan kanan dan bila habis harus menjilat jari. Begitu juga ilmuwan telah menemukan bahwa enzyme banyak terkandung di celah jari, yaitu 10 kali ganda terdapat dalam air liur.

Subhanallah...

Semoga kita termasuk umat yang dirindukan Rasulullah SAW yang selalu tetap istiqamah mengikuti dan mengamalkan Sunnah - Sunnah Beliau. Aamiin.

(Cantumkan jika ada doa khusus agar kami para jamaah bisa mengaminkannya)

Silahkan Klik Like dan Bagikan di halamanmu agar kamu dan teman-temanmu senantiasa istiqomah dan bisa meningkatkan ketakwaannya kepada ALLAH SWT.

Ya ALLAH...
✔ Muliakanlah orang yang membaca status ini
✔ Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid
✔ Lapangkanlah hatinya
✔ Bahagiakanlah keluarganya
✔ Luaskan rezekinya seluas lautan
✔ Mudahkan segala urusannya
✔ Kabulkan cita-citanya
✔ Jauhkan dari segala Musibah
✔ Jauhkan dari segala Penyakit,Fitnah,Prasangka Keji,Berkata Kasar dan Mungkar.
✔ Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang
membaca dan membagikan status ini.

Aamiin ya Rabbal'alamin