Halaman

Selasa, 25 Februari 2014

Membaca Surat Al Kahfi di Hari Jumat Itu Baik

Bismillah, banyak keutamaan di hari jumat mamen. Juga ada amalan yang disunnahkan pada hari jumat. Mungkin mamen pernah dengar mengenai sunnah membaca surat Al Kahfi pada hari jumat. Berikut dasar hadits yang dijadikan sandaran akan sunnah itu, cekiprut yosh.

"Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, niscaya akan memancar cahaya terang yang menyinari dirinya di antara kedua Jum’at". {HR. Al-Hakim, Al-Baihaqi}

Disunnahkan Membaca Surat Al-Kahfi Setiap Hari Jum'at, Boleh Juga Malam Jum'at. Semoga kita dimudahkan agar selalu istiqomah melakukan amalan ini.

Jin, Setan, dan Iblis

Jin

Jin adalah salah satu jenis makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memiliki sifat fisik tertentu, berbeda dengan jenis manusia atau malaikat.

Jin diciptakan dari bahan dasar api, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan,
“Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar. Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.” {QS. Ar-Rahman: 14 – 15}

Jin memiliki kesamaan dengan manusia dalam dua hal:
a. Jin memiliki akal dan nafsu, sebagaimana manusia juga memiliki akal dan nafsu.
b. Jin mendapatkan beban perintah dan larangan syariat, sebagaimana mausia juga mendapatkan beban perintah dan larangan syariat.

Oleh karena itu, ada jin yang muslim dan ada jin yang kafir. Ada jin yang baik dan ada jin yang jahat. Ada jin yang pintar masalah agama dan ada jin yang bodoh. Bahkan ada jin Ahlussunnah dan ada jin pengikut kelompok sesat, dst.

Sedangkan perbedaan jin dengan mansuia yang paling mendasar adalah dari asal penciptaan dan kemampuan bisa kelihatan dan tidak.

Makhluk ini dinamakan jin, karena memiliki sifat ijtinan (Arab: اجتنان), yang artinya tersembunyi dan tidak kelihatan. Manusia tidak bisa melihat jin dan jin bisa melihat manusia. Allah berfirman,
“Sesungguhnya ia (iblis) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu di suatu keadaan yang kamu tidak bisa melihat mereka.” {QS. Al-A’raf: 27}


Setan

Untuk memahami setan, satu prinsip yang harus Anda pegang: Jin itu makhluk dan setan itu sifat. Karena setan itu sifat, maka dia melekat pada makhluk dan bukan berdiri sendiri.

Setan adalah sifat untuk menyebut setiap makhluk yang jahat, membangkang, tidak taat, suka membelot, suka maksiat, suka melawan aturan, atau semacamnya.

Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar mengatakan,
“Setan dalam bahasa Arab digunakan untuk menyebut setiap makhluk yang menentang dan membangkang.” 

Dinamakan setan, dari kata; syutun (Arab: شطون) yang artinya jauh. Karena setan dijauhkan dari rahmat Allah. (Al-Mu’jam Al-Wasith, kata: الشيطان)

Kembali pada keterangan sebelumnya, karena setan itu sifat maka kata ini bisa melekat pada diri manusia dan jin. Sebagaimana penjelasan Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa ada setan dari golongan jin dan manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, setelah menjelaskan sifat-sifat setan,

“(setan yang membisikkan itu) dari golongan jin dan mausia.” {QS. An-Nas: 6}.


Iblis

Siapakah iblis? Iblis adalah nama salah satu jin yang menjadi gembongnya para pembangkang. Dalil bahwa iblis dari golongan jin adalah firman Allah,
“Ingatlah ketika Kami berkata kepada para maialakt, ‘Sujudlah kallian kepada Adam!’ maka mereka semua-pun sujud kecuali Iblis. Dia dari golongan jin dan membangkang dari perintah Allah.” {QS. Al-Kahfi: 46}

Iblis juga memiliki keturunan, sebagaimana umumnya jin lainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Iblis itu dari golongan jin, dan dia membangkang terhadap perintah Rab-nya. Akankah kalian menjadikan dia dan keturunannya sebagai kekasih selain Aku, padahal mereka adalah musuh bagi kalian…” {QS. Al-Kahfi: 46}

Allahu a’lam

*NASEHAT ALI BIN ABI THALIB*

Hidupkanlah hati dan pikiranmu dengan menerima dan memperhatikan nasehat.
Jadikanlah kesalehan sebagai penolong untuk menghilangkan keinginan-keinginan nafsumu yang tidak terkendali. 
Binalah budi pekertimu dengan pertolongan keyakinan yang tulus pada agama dan Allah.

Taklukkanlah keinginan-keinginan pribadimu, kekesatan hatimu dan kebandelanmu dengan senantiasa mengingat kematian. 
Sadarilah akan kefanaan hidup dan segala kenikmatannya. 
Insyafilah kenyataan dari kemalangan dan kesengsaraan yang senantiasa menimpamu serta perubahan keadaan dan waktu. 
Ambillah pelajaran dari sejarah kehidupan orang-orang terdahulu.

Jangan membicarakan apa yang tidak engkau ketahui.
Jangan berspekulasi dan memberi pendapat atas apa yang kau tidak berada dalam kedudukan untuk memberi pendapat tentangnya. 
Berhentilah jika khawatir akan tersesat. 
Adalah lebih baik berhenti disaat kebingungan daripada maju merambah bahaya-bahaya yang tak tentu dan resiko-resiko yang tak terduga.

Berjuanglah dan berjihadlah demi mempertahankan dan demi tegaknya kalimat Allah. 
Jangan takut dan khawatir bahwa orang-orang akan mengejekmu, mengecam tindakanmu dan memfitnahmu. 
Janganlah gentar dan ragu membela kebenaran dan keadilan. 
Hadapilah dengan sabar penderitaan dan kesengsaraan yang menimpa. 
Hadapilah dengan berani rintangan yang menghalangi ketika engkau berupaya mempertahankannya. 
Sokonglah kebenaran dan keadilan setiap kali engkau menjumpainya.

Binalah kesabaran dalam menghadapi segala kesulitan, bencana dan kesengsaraan. 
Kesabaran merupakan salah satu diantara moral yang tertinggi dan akhlak yang mulia, dan merupakan suatu kebiasaan yang terbaik yang dapat dibina. 
Bersandarlah dirilah kepada Allah dan mintalah senantiasa perlindunganNya dari segala bencana dan penderitaan. 
Jangan mengharap pertolongan dan perlindungan dari siapapun kecuali Allah.

Ketahuilah bahwa sombong dan bangga diri adalah bentuk-bentuk kebodohan dan berbahaya bagi jiwa dan pikiran. 
Oleh karena itu, jalanilah kehidupan yang seimbang dan berusahalah untuk berlaku jujur dan tulus. 
Apabila mendapat bimbingan dari Allah untuk mencapai apa-apa yang diinginkan, maka janganlah berbangga dengan perolehan itu. 
Tunduk dan merendahlah dihadapan Allah dan sadarlah bahwa keberhasilan itu semata-mata karena kasih dan karunia-Nya.

Aku Malu pada Imam Syafi’i. Kamu? …

:: >> Sahabatku mari belajar dari perikehidupan Imam Syafii Ÿªňƍ kita tahu bersama, beliau hafiz quran saat masih seumuran anak SD

:: >> Imam syafii bkn dr kluarga berada. Utk peroleh alat tulis, beliau kumpulkan ranting, tembikar, kulit binatang. Sementara kita saat ini?

:: >> Bandingkan Imam syafii dg kita, utk bisa nulis kita jika tak ada buku, ada laptop, ada pula BB, dst. Lalu knp kita msh malas nuntut ilmu?

:: >> Imam Syafii utk nambah pemahaman ilmunya, beliau berpindah dr mekah-madinah, utk berguru kpd bbrpa mahaguru saat itu. Sementara kita?

:: >> Bandingkan Imam syafii dg kita, skrg kita cari ilmu hny prlu duduk dpan lepi searching gogle. Lalu knp kita msh malas nuntut ilmu?

:: >> Sahabatku, sudah ada jaminan dr Allah berupa surga bagi Ÿªňƍ bersungguh2 menuntut ilmu. Lalu knpa kita msh malas nuntut ilmu?

:: >> Sahabatku, malu kita kpd imam syafii InsyaAllah malu karena Allah. Tapi malu itupun harus bereaksi, maka next action itulah Ÿªňƍ penting

:: >> Mari sahabatku, bersama sy stlh ini saatnya utk komitmen mencri ilmu dan guru. Smoga diberi jalan kemudahan dan keistiqomahan. Aamiin

"Barangsiapa merintis jalan mencari ilmu maka Allah akan memudahkannya jalan ke surga" { HR. Muslim}

RENUNGKANLAH WAHAI SAUDARA SAUDARI KU

Pantaskah kita mengeluh
“Ah mana mungkin???”
Allah menjawab,
“Jika aku mengkhendaki, cukupku berkata (“jadi”) maka jadilah” {Qs. Yasin : 82}

Ketika kita mengeluh
“Aku capek banget”
Allah menjawab,
“Dan kami jadikan tidurmu untuk istirahat” {Qs. An-Naba : 9}

Ketika kita mengeluh
“Berat banget,,, gak sanggup rasanya ”
Allah menjawab,
“Aku tidak membebani seseorang melainkan seseorang dengan kesanggupannya” {Qs. Al-Baqarah: 286}

Ketika kita mengeluh
“Stress nih, BT, Galau, Bikin Mumet”
Allah menjawab,
“Hanya dengan mengingatku hati akan menjadi Tenang” {Qs:Ar- ro’du:28 }

Ketika kita mengeluh
“yah,,, amal 1000 rupiah mah nggak ada artinya, cuma sia-sia”
Allah menjawab,
“Siapa yang mengerjakan kebajikan sebesar biji dzarah sekalipun niscaya ia akan melihat balasannya” {Qs. Al-Zalzalah:7}

Ketika kita mengeluh
Ukh,, sedih banget rasanya :’(
Lalu Allah menjawab.
“Laa tahzan, Innalloha ma’aana”
"Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." {Qs. At Taubah:40}

INGATLAH…
“Hanya Dengan Rasa Syukur Kepada Allah SWT, Kebahagiaan Dapat Dirasakan”. Mari kita menjadi hamba yg selalu bersyukur, apapun nikmat yg diberikan Allah, kalau kita pandai bersyukur semuanya akan jadi berkah